Selama ini, proses ekplorasi kultur yang terjadi di Indonesia selalu merujuk pada perkembangan pola-pola eksplorasi dari setiap era kultural yang telah terjadi di negara lainnya, khususnya dari perkembangan kebudayaan Eropa. Salah satu hal yang perlu digaris bawahi, dinamika kebudayaan yang terjadi di Eropa memiliki latar belakang sebab dan akibat yang berbeda dengan dinamika kultur di Indonesia. Hal ini tentu saja merupakan salah satu dasar pemikiran yang menunjukkan bahwa dinamika kultur di Indonesia adalah tidak sama dengan dinamika kultur di Eropa.
Oleh sebab dampak imperialisme bangsa Eropa di masa lalu, dinamika kebudayaan yang terjadi di negara-negara Eropa ini selanjutnya memberikan mempengaruhi dinamika kultur dari berbagai bangsa yang termasuk dalam wilayah imperialismenya. Sehingga tidaklah heran mengapa ada kecenderungan untuk merujuk maupun mengadopsi dinamika kultur Eropa sebagai acuan dalam perkembangan kultur dari bangsa-bangsa yang mengalami dampak imperialisme tersebut.
Sesungguhnya kecenderungan untuk merujuk maupun mengadopsi dinamika kultur Eropa ini merupakan sebuah ironi kebudayaan yang menunjukkan adanya pengakuan superioritas bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa lainnya. Sebelum adanya imperialisme bangsa Eropa, secara historis dapat dibuktikan superioritas kebudayaan Eropa berangkat dari adanya gerakan renaissance oleh sebab pengaruh superioritas kebudayaan Islam yang membuka mata bangsa Eropa pada masa-masa konflik perang salib. Renaissance yang mengawali superioritas kebudayaan Eropa pada dasarnya merupakan upaya penggalian berbagai unsur kultural yang ada di Eropa dengan kebudayaan Islam sebagai rujukan komparatif. Dalam hal ini, bangsa Eropa tidak serta-merta mengadopsi seluruh unsur kebudayaan Islam dalam dinamika kulturalnya, namun menjadikan dinamika kebudayaan Islam sebagai acuan dasar dalam menggali berbagi potensi kultural yang ada dalam kebudayaannya sendiri.
Dalam hal ini terlihat jelas nilai superioritas suatu bangsa tidak ditentukan oleh stagnasi kebudayaan namun dipicu oleh adanya kemampuan adaptasi kebudayaan yang dinamis melalui eksplorasi berbagai unsur kultural yang ada dari bangsa tersebut. Hal ini berarti jika bangsa kita dapat mencoba menggali kembali berbagai unsur kebudayaan yang ada di Indonesia, maka bukan tidak mungkin kita dapat mengembangkan atau mungkin menemukan suatu solusi intelektual yang sesuai dengan dinamika kebangsaan? Semoga para birokrat kita dapat memahami urgenitas masalah ini.
Wassalam, Syalom, Om Sarasvati. Horas.
FREDDY HASIHOLAN SIDAURUK